BISMILLAHIRAHMANIRAHIM

Animasi

Selasa, 07 Februari 2012

Cabang Filsafat 3 (atam)


KOSMOLOGI
Kosmologi atau filsafat alam berbicara tentang dunia. Cabang filsafat ini sangat tua. Ribuan tahun yang lalu, di Mesir dan Mesopotamia manusia sudah bertanya tentang asal alam semesta. Kosmologi berkembang sangat baik di Yunani dan memberi hidup kepada ilmu alam. Ilmu alam sudah lama berkembang dan dipilih sebagai model untuk banyak ilmu lain. Pertanyaan-pertanyaan dari filsafat alam itu misalnya soal evolusi, kebebasan dan determinisme, definisi materi, definisi energi, definisi hidup, dan soal-soal yang berhubungan dengan konsekuensi-konsekuensi etis dari kemajuan teknik.
Bersama dengan spesialisasi ilmu alam yang sangat maju, dirasa keperluan akan suatu refleksi yang mendalam yang memperhatikan keseluruhan. Nah refleksi ini merupakan bidang kosmologi. Kosmologi merupakan rangka umum yang dimana hasil-hasil dari ilmu alam dapat dipasang. Teori-teori umum tentang alam sebagai kesatuan yang berfungsi sebagai rangka umum itu sekarang dikemukakan oleh antara lainE.Mach (1838-1916), H.Hertz (1859-1894), M.Planck (1858-1947), dan A.Einstein (1879-1955). Kosmologi sekarang memandang alam sebagai suatu proses. Kosmos itu bukan sistem tetap dan tak terhingga melainkan suatu proses perkembangan.

ETIKA
Katae tika berasal dari Yunani (ethos) yang berarti adat, cara bertindak, kebiasaan. Kata moral berasal dari Latin (mos) yang mempunyai arti yang sama.
Etika dibedakan dari semua cabang filsafat lain karena tidak mempermasalahkan keadaan manusia, melainkan bagaimana manusia harus bertindak. Tindakan manusia ditentukan oleh macam-macam norma (Latin: norma= siku). Norma-norma dapat dibagi atas norma sopan santun, norma hukum, dan norma moral. Norma yang paling penting untuk tindakan manusia, norma moral, datang dari "suara batin". Norma-norma ini merupakan bidang etika.
Plato dan Aristoteles sudah menyusun suatu etika. Filsuf-filsuf moral kenamaan lainnya antara lain Thomas AquinoHobbesHumeKantDeweyScheler, dan von Hildebrand. Beberapa yang termasuk etika seperti filsafat Cina, Hinduisme, dan Buddhisme terus menerus mementingkan jalan untuk mencapai kebahagiaan.
Dalam etika biasanya dibedakan antara etika deskriptif dan etika normatif. Etika deskriptif memberi gambaran dari gejala kesadaran moral (suara batin) dari norma-norma dan konsep-konsep etis. Etika normatif tidak berbicara tentang gejala-gejala, melainkan tentang apa yang sebenarnya harus merupakan tindakan kita. Dalam etika normatif, norma-norma dinilai dan sikap manusia ditentukan.

ESTETIKA
Estetika dalam bahasa Yunani (aisthesis) yang artinya pengamatan adalah cabang filsafat yang berbicara tentang keindahan. Dalam pengalaman atas dunia sekeliling kita ditemukan suatu bidang yang disebut indah. Nah pengalaman akan keindahan merupakan objek dari estetika. Mengapa justru objek-objek tertentu sangatmenarik untuk menarik? Dalam estetika dicari hakikat dari keindahan, bentuk-bentuk pengalaman keindahan (seperti keindahan jasmani dan keindahan rohani, keindahan alam dan keindahan seni), dan diselidiki emosi-emosi manusia sebagai reaksi terhadap yang indah, agung, tragis, bagus, mengharukan, dan seterusnya.
Seperti dalam etika, estetika dibedakan antara suatu bagian deskriptif dan suatu bagian normatif. Bagian deskriptif menggambarkan gejala-gejala pengalaman keindahan, sedangkan bagian normatif mencari dasar pengalaman itu. Banyak filsuf telah menyusun suatu estetika dan dicoba untuk menyusun suatu hierarki bentuk-bentuk seni. Seperti Hegel (1770-1831) membedakan suatu rangkaian seni-seni yang mulai pada arsitektur dan berakhir pada puisi. Makin kecil unsur materi dalam suatu bentuk seni, makin tinggi tempatnya atas tangga hierarki. Sedangkan Schopenhauer (1788-1850) melihat suatu rangkaian yang mulai pada arsitektur dan memuncak dalam musik. Musik mendapat tempat istimewa dalam estetika. Musik digambarkan sebagai suatu bentuk "wahyu" yang masih berbicara tentang transendensi, kalau pengertian manusia sudah tidak kuat lagi. Musik dapat mengungkapkan hal-hal yang tidak dapat diekspresikan dengan kata-kata.

SEJARAH FILSAFAT
Sejarah filsafat mengajarkan jawaban-jawaban yang diberikan oleh pemikir-pemikir besar, tema-tema yang dianggap paling penting dalam periode tertentu, dan aliran-aliran besar yang menguasai pemikiran selama suatu zaman atau di suatu bagian dunia tertentu. Ada banyak pertanyaan dan jawaban yang selalu kembali disegala zaman dan di semua sudut dunia, oleh karena itu sejarah filsafat sesuatu yang sangat penting.
Dalam sejarah filsafat bisanya dibedakan tiga tradisi besar yaitu filsafat India, filsafat Cina dan filsafat Barat. Dalam ketiga tradisi ini ada banyak kesamaan, terutama antara filsafat India dan filsafat Barat. Sesuatu yang menonjol adalah bahwa baik di India dan Cina maupun dalam dunia Barat, Hidup Intelektual menjadi "dewasa" (melepaskan diri dari cara berpikir mistis) dalam periode antara 800 � 200 SM. Dalam periode ini hidupKonfusius dan Lao Tzu di Cina; Gautama Buddha dan penyusun-penyusun    Upanisad di India; Parmenides,HerakleitosSokrates, Plato, dan Aristoteles di Yunani; Zoroaster di Persia; nabi-nabi besar di Israel.
Sejarah filsafat dunia merupakan suatu sumber pengetahuan, pengalaman, hikmat, dan iman yang luar biasa. Sejarah filsafat merupakan suatu cermin bagi manusia. Pertanyaan-pertanyaan dan ide-ide manusia sekarang ditemukan kembali disini dalam suatu perspektif yang sangat luas, yang mengatasi batas-batas agama,bahasa, zaman dan kebudayaan.

Cabang Filsafat 2


KRITIK ILMU-ILMU
Pada awalnya, perbedaan filsafat dan ilmu pengetahuan sangatlah kecil. Pada zaman Yunani kuno hanya dibedakan empat ilmu, yaitu logika, ilmu pasti, ilmu pesawat dan kedokteran. Bahkan, kedokteran dan logika lebih dipandang sebagai seni atau keahlian. Mulai zaman renaisans (sekitar 1800 dan sesudahnya) menghasilkan ilmu-ilmu yang kebanyakan sekarang. Seperti sosiologi, psikologi dan psikoanalisis yang masih muda. Dan ada yang lebih muda lagi seperti ilmu ekologi (ilmu keseimbangan lingkungan hidup).
Ilmu dibagi menjadi tiga kelompok :
1.     Ilmu-ilmu formal             :Matematika, logika, dll
2.     Ilmu-ilmu empiris formal  :Ilmu alam, ilmu hayati, dll
3.     Ilmu-ilmu hermeneutis     :Sejarah, ekonomi, dll
Beberapa orang mengatakan bahwa ilmu hermeneutis tidak ilmiah karena disini tidak dicapai kepastian. Misalkan sejarah, disini tidak diterangkan sesuatu melainkan hanya dimengerti sesuatu, hanya diberikan fakta-fakta dan tidak pernah dicapai suatu kepastian bahwa fakta ini benar. Orang lain mengatakan bahwa ilmu-ilmu empiris formal memang selalu bersifat hipotesis sehingga antara ilmu-ilmu empiris formal dan ilmu-ilmu hermeneutis tidak begitu penting. Nah, pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang termasuk kritik ilmu-ilmu. Teori-teori tentang pembagian ilmu-ilmu,tentang metode ilmu-ilmu, tentang dasar kepastian dan tentang jenis-jenis keterangan yang diberikan, tidak lagi termasuk bidang ilmu pengetahuan sendiri, melainkan merupakan suatu cabang dari filsafat.

METAFISIKA UMUM
Dalam logika diajarkan suatu prinsip yang mengajarkan: "makin besar ekstensi suatu istilah atau pernyataan, makin kecil komprehensi istilah atau pernyataan itu". Artinya, isi (komprehensi) suatu kata atau kalimat menjadi sangat kecil kalau luasnya (ekstensi) kata atau kalimat itu sangat besar, dan sebaliknya.
Metafisika umum (ontologi) berbicara tentang segala sesuatu sekaligus. Lalu itu hanya mungkin kalau komprehensi perkataan-perkataannya kecil sekali. Metafisika umum hanya berbicara tentang segala sesuatu sejauh itu "ada". "Adanya" segala sesuatu merupakan suatu segi dari kenyataan yang mengatasi semua perbedaan antara benda-benda dan makhluk-makhluk hidup, antara jenis-jenis dan individu-individu. Semua benda, tumbuh-tumbuhan, binatang, dan orang merupakan suatu "pengada". Kata Yunani untuk "pengada" adalah on (genetif: ontos). Oleh karena itu. Pengetahuan tentang pengada-pengada, sejauh mereka ada, disebut ontologi.
Jenis ontologi ini, dari satu pihak,menarik karena disini ditemukan kemungkinan untuk menterjemahkan istilah-istilah pokok dari agama-agama dalam istilah-istilah falsafi. Dari lain pihak, jenis ontologi ini juga dikritik karena Allah sebagai "Mengada" manusia tidak dapat berlutut, dan kepada Letting-be ia tidak dapat berdoa. Jawaban-jawaban yang diberikan atau pertanyaan-pertanyaan yang dirumuskan dalam ontologi mengungkapkan suatu kepercayaan.
Jenis kepercayaan ontologi ada empat:
Ateisme (Yunani: a- 'bukan', theos 'Allah') mengajarkan bahwa Allah itu tidak ada dan manusia sendirian dalam kosmos
Agnostisisme (Yunani: a- 'bukan', gnosis 'pengetahuan') mengajarkan bahwa tidak dapat diketahui apakah Allah itu ada atau tidak, sehingga pertanyaan tentang Allah selalu terbuka
Panteisme (Yunani: pan 'segala sesuatu', theos 'Allah') mengajarkan bahwa seluruh kosmos sama dengan Allah, sehingga tidak ada perbedaan antara Pencipta dan ciptaannya
Teisme mengajarkan bahwa Allah itu ada, ada perbedaan antara Allah dan ciptaannya
Metafisika umum merupakan cabang yang sangat problematis pada saat sekarang. Banyak filsuf yang mengatakan bahwa cabang ini tidak mungkin karena manusia sudah melewati batas-batas kemungkinan akal budinya.

TEOLOGI METAFISIK
Metafisika khusus terdiri dari teologimetafisik, antropologi, dan kosmologi. Teologi metafisik berhubungan erat dengan ontologi. Dalam teologi metafisik diselidiki apa yang dapat dikatakan tentang adanya Allah, lepas dari agama, lepas dari wahyu. Yang dapat dikatakan tentang Allah, lepas dari agama, tentu saja tidak banyak. Teologi metafisik hanya menghasilkan suatu kepercayaan yang sangat sederhana dan abstrak. Namun, yang sedikit ini sangatlah berguna dalam dialog dengan agama, agnostisisme, panteisme, dan ateisme. Orang lain yang berpendapat berbeda tentang Allah tidak akan menerima argumen-argumen yang berasal dari teologi yang terikat pada "wahyu" khusus, tetapi mereka akan menerima argumen-argumen yang berdasarkan akal budi, karena akal budi adalah milik umum.
Teologi metafisik sekarang ini masih tetap merupakan usaha untuk menciptakan ruang dialog antara iman dan akal budi. Sekarang, dialog ini lebih bersifat dialog dengan ateisme.

ANTROPOLOGI
Setiap filsafat mengandung secara eksplisit atau implisit suatu pandangan tentang manusia, tentang tempatnya dalam kosmos, tentang hubungannya dengan dunia, dengan sesama. Menurut Immanuel Kant, pertanyaan "Siapakah manusia?" merupakan pertanyaan satu-satunya dari filsafat. Semua pertanyaan lain dapat dikembalikan kepada pertanyaan ini.
Manusia hidup dalam banyak dimensi sekaligus. Manusia adalah sekaligus materi dan hidup, badan dan jiwa, manusia mempunyai kehendak dan pengertian. Manusia merupakan seorang individu, tetapi tidak dapat hidup lepas dari orang lain.
Semua dimensi ini, semua pikiran dan kegiatan manusiawi, berkumpul dalam satu kata, yaitu "aku". Kata "aku" dipakai sebagai titik simpul dari banyak hal sekaligus. Akan tetapi kata ini yang begitu mudah digunakan dan terlihat sederhana untuk dipahami. Dibelakang kata "aku" terdapat suatu pribadi dan penuh relasi-relasi sejarah, kegembiraan dan penderitaan, harapan dan keputusasaan, suatu pandangan tentang dunia, sesama dan tujuan hidup.
Sekitar tahun 1500 manusia betul-betul menjadi titik pusat dari filsafat. Sejak zaman renaisans manusia dipandang sebagai pusat sejarah, pusat pemikiran, pusat kehendak,kebebasan, dan dunia. Terlihat dalam seni dan dalam berbagai ilmu yang lahir sejak zaman renaisans.

Senin, 06 Februari 2012

Cabang Filsafat 1



Filsafat adalah studi tentang seluruh fenomena kehidupan dan pemikiran manusia secara kritis dan dijabarkan dalam konsep mendasar
Filsafat itu selalu bersifat "filsafat tentang" sesuatu yang tertentu karena filsafat bertanya tentang seluruh kenyataan. Contohnya filsafat tentang manusia, filsafat alam, filsafat kebudayaan, filsafat seni, filsafat agama, filsafat bahasa, filsafat sejarah, filsafat hukum, filsafat pengetahuan dan seterusnya. Seluruh jenis filsafat tersebut dapat dikembalikan lagi kepada empat bidang induk, seperti dalam skema ini.

Cabang Filsafat

Epistemologi
:
pengetahuan tentang pengetahuan
Logika
:
menyelidiki aturan-aturan yang harus diperhatikan supaya berpikir sehat
Kritik ilmu-ilmu
:
menyelidiki titik pangkal, metode dan objek dari ilmu-ilmu
Ontologi
:
pengetahuan tentang "semua pengada sejauh mereka ada"
Teologi metafisik
:
(disebut juga teodise atau filsafat ketuhanan) berbicara tentang pertanyaan apakah Tuhan ada dan nama-nama tentang ilahi
Antropologi
:
berbicara tentang manusia
Kosmologi
:
(disebut juga filsafat alam) berbicara tentang alam, kosmos
Etika
:
(disebut juga filsafat moral) berbicara tentang tindakan manusia
Estetika
:
(disebut juga filsafat seni) menyelidiki mengapa sesuatu dialami sebagai indah
Sejarah filsafat
:
mengajarkan apa jawaban pemikir-pemikir sepanjang zaman

Tidak semua filsuf setuju dengan pembagian seperti yang diuraikan diatas. Ada filsuf yang menyangkal kemungkinan ontologi atau seluruh metafisika. Namum pembagian ini adalah skema yang paling klasik dan paling umum diterima.

EPISTEMOLOGI
Apa itu pengetahuan? Apakah sesuatu hasil dari pengamatan? Dari akal budi? Atau justru dari interaksi dari panca indera dan akal budi? Ataukah pengetahuan yang hanya bersifat intuitif? Apakah kita akan mendapat kepastian bahwa pengetahuan kita benar? Apakah pengetahuan itu tidak bersifat hipotesis?
Pertanyaan-pertanyaan tentang kemungkinan-kemungkinan pengetahuan, tentang batas-batas pengetahuan, tentang asal pengetahuan dibicarakan dalam epistemologi. Kata epistemologi berarti "pengetahuan (Yunani:logia) tentang pengetahuan (episteme)".Dalam sejarah filsafat, terlihat suatu gerakan gelombang dari periode-periode perkembangan dan zaman-zaman skeptisis. Setiap akan mencapai suatu puncak, orang akan mulai ragu-ragu. Orang bertanya, apakah didunia ini memang pernah akan mampu mencapai suatu kepastian tentang kebenaran pengetahuan kita.
Pemikir-pemikir seperti Augustinus dan Descrates memperlihatkan bahwa skeptisisme tidak dapat dipertahankan secara konsekuen. Skeptisis-skeptisis menyangsikan tentang apa saja, sekurang-kurangnya meyakini bahwa apa saja dapat diragukan kebenarannya. Kelihatannya setiap manusia juga seorang skeptisis, menerima bahwa setidak-tidaknya ada hal yang pasti.
Ada dua aliran falsafi yang mempunyai peranan besar dalam diskusi tentang proses pengetahuan yaitu rasionalisme dan empirisme. Rasionalisme (Latin:ratio 'akalbudi') mengajarkan bahwa akal budi merupakan sumber utama pengetahuan. Rasionalisme mempunyai akar-akar yang sangat tua, tetapi dalam zaman modern (setelah sekitar 1600) rasionalisme mendapat tekanan baru pada filsuf-filsuf seperti Descartes, Spinoza danLeibniz. Lawan rasionalisme adalah empirisme (Yunani:empeiria 'pengalaman') mengajarkan bahwa pengetahuan berasal dari pengalaman inderawi, bukan dari akal budi karena akal budi berisi tentang kesan-kesan dari pengamatan. Baru kemudian kesan-kesan ini dihubungkan oleh akal budi menjadi ide-ide majemuk. Tokoh-tokoh empirisme itu antara lain BaconHobbes , Locke dan Hume .
Tetapi oleh Immanuel Kant, empirisme dan rasionalisme didamaikan. Kant memperlihatkan bagaimana peranan panca indera dan akal budi dalam suatu analisis raksasa dari seluruh proses pengetahuan dimana semua unsurnya yang berperan. Setelah Kant, epistemologimerupakan cabang filsafat yang sangat berkembang. Banyak filsuf masa kini lebih dikenal sebagai epistemolog.

LOGIKA
Logika (Yunani:logikos 'berhubungan dengan pengetahuan', 'berhubungan dengan bahasa') merupakan cabang filsafat yang menyelidiki kesehatan berpikir, aturan-aturan mana yang harus dihormati supaya pernyataan-pernyataan kita sah. Logika tidak mengajarkan apapun tentang manusia atau dunia. Logika hanyalah suatu teknik atau seni yang mementingkan segi formal.
Semua argumentasi itu betul kalau semua langkah dari argumentasi itu betul. Langkah-langkah ini terdiri dari kalimat-kalimat (proposisi-proposisi), dan setiap kalimat terdiri dari subjek dan predikat. Mari kita perjelas dengan sebuah contoh :

Jika semua orang Indonesia senang makan nasi   (A)
dan jika Parto seorang warga negara Indonesia     (B)
maka Parto senang makan nasi                           (C)

Argumen ini terdiri dari tiga kalimat. Kalimat A dan B disebut premis-premis dan kalimat C disebut konklusi. Setiap kalimat terdiri dari subjek (yaitu: 'semua orang Indonesia' dan 'Parto') dan predikat (yaitu: 'senang makan nasi' dan 'warga negara Indonesia'). Nah, logika bertugas menyelidiki syarat-syarat yang harus dipenuhi supaya dapat ditarik sebuah kesimpulan yang sah. Usaha ini terlihat sederhana, tapi soal-soal yang dibicarakan dalam logika sangatlah kompleks.
Logika dalam bentuk ini disebut logika klasik (berkembang pada Aristoteles 348-322 SM dan banyak filsuf dari abad pertengahan). Pada saat ini telah dibedakan suatu jenis logika baru - disamping logika klasik- yaitu logika matematis (disebut juga logika formal / logistik). Logika matematis dikembangkan antara lain oleh FregeWhitehead dan Russell